A. Hakikat
Pembelajaran
1.
Pengertian
Pembelajaran
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Hal tersebut juga dinyatakan oleh Ahmar (2012:10)
yang menyatakan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan
ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap
dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah
proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran
dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan
kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran,
walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.
Pembelajaran adalah pemberdayaan potensi
peserta didik menjadi kompetensi. Kegiatan pemberdayaan ini tidak dapat
berhasil tanpa ada orang yang membantu. Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful
Sagala, (2011: 62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam
desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar.
Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses interaksi antara guru, siswa dan sumber belajar pada lingkungan
belajar agar terjadinya proses pemerolehan ilmu pengetahuan, dan penguasaan
kemahiran yang membuat siswa belajar secara aktif serta proses pembelajaran
dialami sepanjang hayat serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
2.
Komponen
Pembelajaran
Menurut
Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012) mengelompokkan komponen komponen pembelajaran
dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan
siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran,
media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta
situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya.
a) Tujuan Pembelajaran
Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan
pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil
pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan
diukur.
b) Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam
Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan
disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses
belajar mengajar tidak akan berjalan.
c) Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan
atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa
untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru
memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan
metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar
baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran
yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber
dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d) Media Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009)
mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
1) Penggunaan media kelas
2)
Penggunaan
media diluar kelas
e)
Evaluasi
Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian
terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya
evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi
pembelajaran harus disusun dengan tepat.
f)
Peserta
didik/Siswa
Siswa merupakan komponen inti dari
pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g)
Pendidik/Guru
Guru
merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena
tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu
adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h)
Lingkungan
tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan
menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang
untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.
3. Pengelolaan Proses Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses
pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan kepercayaan kepada
peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk
membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik
B. Model
Desain Pembelajaran
1.
Pengertian
Desain Pembelajaran
Menurut Sambaugh
dalam (Sanjaya 2013) Desain sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat
linear. Desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis
untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan
pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber
pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan.
Menurut Gentry dalam (Sanjaya
2013) Berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan
tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang
media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.
Gagne (1992)
menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar
siswa, di mana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka
panjang.
Maka dapat
disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah suatu sistem desain pembelajaran
yang berupa perencanaan dan pengembangan yang disusun untuk merancangan
pembelajaran beserta media pembelajaran melalui model, strategi dan teknik
pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembalajaran secara baik dan
efektif.
2.
Kriteria
Desain Instruksional
Beberapa kriteria
desain instruksional yang baik diantara sebagai berikut;
a.
Berorientasi
pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus
kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa
dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal
yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1)
Kemampuan
dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa
perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain
pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya
disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh
setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan
kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak
dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)
Gaya
belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif,
tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap
informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain
pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang
dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.
Bepihak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya,
akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena
melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg
mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka
pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg
dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
c.
Teruji
secara empiris
Sebelum
digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan
efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat
berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh
sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah
dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan
merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan
pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan
perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg
hendak dicapai.
Perencanaan
lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum
sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam
menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum
yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan
mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai
individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita
akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita
perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga
pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain
pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu
bahan pelajaran dengan mudah.
3.
Model-model
desain instruksional
Perencanaan
pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan
lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum
sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001)
bahwa desain intruksinonal adalah a
systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain
pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah ini disajikan beberapa di antaranya.
a.
Model
Kemp
Model
desain sistem instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang
dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp
pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul.
Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja
urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi
untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh
karena itu model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat
luwes.
Komponen-komponen
dalam suatu desainn instruksional menurut Kemp adalah:
1)
Hasil
yang ingin dicapai
2)
Analisis
tes mata pelajaran
3)
Tujuan
khusus belajar
4)
Aktivitas
belajar
5)
Sumber
belajar
6)
Layanan
pendukung
7)
Evaluasi
belajar
8)
Tes awal
9)
Karakteristik
belajar
Kesembilan komponen itu merupakan suatu siklus yang terus menerus
direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi si sumatife maupun formatife dan
diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai,
prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
b. Model Banaty
Model desain sistem pembelajaran dari
Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem
instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap
dalam mendesain suatu program pembelajaran yaitu:
1) Menganalisis
dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem
maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus
dicapai oleh siswa atau peserta didik.
2) Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat
menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
3)
Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh
kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi
yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
4) Merancang
sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
5) Mengimplementasikan
dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas
sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
6)
Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1
s.d 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6
adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
c.
Model
Dick and Cery
Menurut model ini sebelum desainer merumuskan
tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta
menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes
dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan
penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan
strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan
dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran
yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan
evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai
efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan
setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi
inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
d.
Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung
pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program
pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan
proses belajar mengajar. PPSI terdiri
dari 5 tahap yakni:
1) Merumuskan
tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni tujuan harus oeprasional, artinya tujuan yang
dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan
proses belajar, berbentuk perubahan tingkat laku dalam setiap rumusan tujuan
hanya satu bentuk tingkah laku.
2) Mengembangkan
alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk
msing-masing tujuan. Alat eveluasi disismpan pada tahap 2 setelah peremusuan
tujuan untuk menyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
3) Mengembangkan
kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar
dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4) Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pembelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan dan sumber pelajaran.
5) Pelaksanaan
program, yaitu kegiatan mengadakan pretes, menyampaikan materi pelajaran,
mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.
C. Analisis
Kebutuhan
Menganalisis
kebutuhan merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendesain pembelajaran.
Mendesain pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan
hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh individu yang memerlukannya.
Analisis kebutuhan merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan
dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.
1.
Pengertian
Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untukmengidentifikasi faktor-faktor
pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media
yang tepat dan relevan mencapai tujuan
pembelajaran dan mengarahkan pada peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai suatu
proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Need
Assessment (analisi
kebutuhan) adalah suatu cara atau motode untuk mengetahui perbedaan antara
kondisi yang diingikan/seterusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi
yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang
ada seringkali disebut dengan kondisi rill atau kondisi nyata.
Pertama, Need Assesment merupakan suatu proses artinya ada rangkaian
kegiatan dalam pelaksanaan need
assessment bukanlah suatu hasil akan
tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu.
Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara
harapan dan kenyattaan. Dengan demikian maka, need assessment merupakan
kegaiatan mengumpulkan informasi tentang
kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah
dimiliki.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah
segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk
memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan
marni 2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk
mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan
kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
Dapat disimpulkan bahwa analisi kebutuhan
adalah suatu usaha untuk mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan anak.
Analisis kebutuhan juga disebut suatu kajian terhadap asepek-aspek kebutuhan
siswa baik melalui komponen-komponen dan sarana yang diperlukan siswa untuk
mencapai tujuan yang diharapkan.
2.
Fungsi
Analisis Kebutuhan
Morrison menjelaskan beberapa fungsi
analisis kebutuhan (Need
Assessment) sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang mengganggu pekerjaan atau
lingkungan pendidikan.
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d. Memberikan
data basis untuk menganalisis efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan
mengadakan analisis kebutuhan:
a.
Kebutuhan
Normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, UAN, SNMPTN,
dan sebaginya.
b.
Kebutuhan
Komperatif
Membandingkan peserta didik pada satu kelimpok dengan kelompok yang lain
yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTPA dengan SLTP B.
c. kebutuhan
yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini merupakan kesenjangan antara
tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik
untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d. Kebutuhan
yang diekspesikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan
dalam tindakan. Misal siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.
Kebutuhanmasa
depan, yaitu mengidentifikasi
perubhan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik
pembelajaran yang baru dan sebagainya.
f. Kebutuhan
Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang
sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, selalahan medis, bencana alam, dan
sebagainya.
3.
Langkah-langkah
Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian
kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada
perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan
meliputi:
a.
Pengumpulan
informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali
seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat
mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala
apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap
karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam
menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan
suatu masalah.
b.
Identifikasi
kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan
English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational
Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen
yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah
bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen
terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu
proses.
Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh
Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1)
Input
2)
Proses
3)
Produk
4)
Output
5)
Outcome
Komponen
input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output,
meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome
meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa
depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil,
desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi
pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan
kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah,
desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni
input, proses, produk, dan output.
c.
Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment,
adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance dilakukan setelah desainer memahami berbagai
informasi
dan mengidentifikasi kesenjangan
yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi
kesenjangan mana yang dapat dipecahkan
melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan
dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan
struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan
dan alat-alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor-faktor
penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada
saat need assessment berlangsung.
Analisis performance meliputi:
1)
Mengidentifikasi
guru
2)
Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
3)
Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
4)
Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping
semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya
penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru
maupun siswa.
d.
Identifikasi
hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah
mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam
pelaksanaan suatu program berbagai kendala
bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu
program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan
dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala
bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program
pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk
juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang terhadap
pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas
yang ada, di dalamnya meliputi
ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga,
berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e.
Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah
mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah
memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang
berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang
berkaitan dengan siswa di antaranya
adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social
ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik
siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus
dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok,
serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f.
Identifikasi
prioritas, tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment
sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi
kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui
penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh
Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu,
mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang
harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi
tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan
kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan
kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala
prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi
Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik
ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui
penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan
benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g.
Merumuskan
masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah
adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses
desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau
sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis
secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah
satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang
dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah
merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan
dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS
merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab
permasalahan yang harus dipecahkan.
D. Analisis
Karakteristik Siswa
Karakteristik
siswa dapat didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang
pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat
kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan,
psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan sosial (Suparman dalam Anwar
dan Harmi 2012:58).
1.
Analisis
Karakteristik Siswa
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam
mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya
dan menyusun sistem pemeblajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Dalammeganalisis karakteristik siswa, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
a.
Latar
belakang akademik mencakup
1)
Jumlah
siswa
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa
yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas
besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru
dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi
pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru
dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
2)
Latar
belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa
seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya,
juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran.
Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui
pengisian biodata oleh siswa.
3)
Indeks
prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk
diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
a)
Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
b)
Bahkan
siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas
yang sama
c)
Guru juga
bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan
dengan prestasi yang dimiliki siswa
d)
Untuk
mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor
sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
4)
Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
a)
Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
b)
Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
c)
Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh
melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
5.
Keterampilan
membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki
siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah
menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang
bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca
siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam
rentang waktu yang telah ditentukan.
6.
Nilai
ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik
awal siswa. untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan
awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
7.
Kebiasaan
belajar/gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam
mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu
pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak
siswa yang mengikuti belajar pada mata
pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi
mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya
disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga
ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang
siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus
mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak
atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan
ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan
preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi,
menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu
diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam
menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya
belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat
ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat
perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.
8.
Minat
belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai
tolok ukur dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru
dapat memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang
disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian
angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat
siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
9.
Harapan/keinginan
siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata
pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam
memahami karakteristik siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa
untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran
yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh
dari mata pelajaran yang disajikan.
10. Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian
angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan
motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
b.
Faktor-faktor
sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
1)
Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam
memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap
pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang
digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan
belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
2)
Kematangan
(maturity)
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai
patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara
psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam
pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu
psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada
fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan
jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia.
Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
3)
Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu
normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
4)
Bakat-bakat
istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak
memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru
perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
5)
Hubungan
dengan sesame siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan
hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya
tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan
emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak
lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran
hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan
menjadikan belajar efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar siswa
membantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu
kepada kerja sama siswa dalam belajar.
6)
Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial
ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan sumber
belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa
mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.
c.
Karakteristik
atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite sklills” seperti: kemampuan intelektual, kemampuan
berfikir, mengucapkan, dan kemampuan gerak atau “psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan,
kaki, dan badan.
2.
Teknik
Analisis Karakteristik Awal Siswa
a. Dengan
menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen yang dimaksud
misalnya nilai surat tanda taman belajar (STTB), nilai rapot, nilai tes
intelegensi dan niali tes masuk. Catatan-catatan mengenai prestasi dalam
berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi
yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
b. Dengan
menggunkan tes prasyarat dan tes awal. Tes prasayaratadalah tes untuk menegtaui
apakah siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau
disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes
untukmengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau
keterampilan menegnai ajaran yang henak diikuti.
c. Mengadakan
konsultasi indivisual. Dengan mengadakan konsultasi individual terhadap siswa, amak guru akan
lebih dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh
informasi mengenai minat, sikap, keinginan siswa , dan sebagainya.
d. Dengan
menyampaikan angket quetsionnaire angket
bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya
belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya: depenent,
independent, competitive, participant, dan sebagainya.
3.
Manfaat
Memahami Karakteristik Siswa
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat)
bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu
mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih
baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara
optimal.
b. Memporoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan
ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih
mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c.
Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan
demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial
emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang
lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d. Mengtahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat
perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara
belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran
yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku
yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara
yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.
Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi
yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahui
tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya.
Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar
dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h. Mengetahui
tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan
bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih
mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan
kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan
berhasil.
i. Mengetahui
sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan
dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan
pribadinya dalam proses belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar