Rabu, 14 Maret 2018


A.    Hakikat Pembelajaran
1.      Pengertian Pembelajaran
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Hal tersebut juga dinyatakan oleh Ahmar (2012:10) yang menyatakan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.
Pembelajaran adalah pemberdayaan potensi peserta didik menjadi kompetensi. Kegiatan pemberdayaan ini tidak dapat berhasil tanpa ada orang yang membantu. Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful Sagala, (2011: 62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara guru, siswa dan sumber belajar pada lingkungan belajar agar terjadinya proses pemerolehan ilmu pengetahuan, dan penguasaan kemahiran yang membuat siswa belajar secara aktif serta proses pembelajaran dialami sepanjang hayat serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
2.      Komponen Pembelajaran
   Menurut Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012) mengelompokkan komponen komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a)      Tujuan Pembelajaran
Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
b)      Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
c)      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d)      Media Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
1)      Penggunaan media kelas
2)      Penggunaan media diluar kelas
e)      Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat.
f)       Peserta didik/Siswa
Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g)      Pendidik/Guru
Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h)      Lingkungan tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.
3.      Pengelolaan Proses Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik


B.     Model Desain Pembelajaran

1.      Pengertian Desain Pembelajaran
Menurut Sambaugh dalam (Sanjaya 2013) Desain sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear. Desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan.
Menurut Gentry dalam (Sanjaya 2013) Berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, di mana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang.
Maka dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah suatu sistem desain pembelajaran yang berupa perencanaan dan pengembangan yang disusun untuk merancangan pembelajaran beserta media pembelajaran melalui model, strategi dan teknik pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembalajaran secara baik dan efektif.
2.      Kriteria Desain Instruksional
Beberapa kriteria desain instruksional yang baik diantara sebagai berikut;
a.       Berorientasi pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1)      Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)      Gaya belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.      Bepihak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
c.       Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai.
Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu bahan pelajaran dengan mudah.
3.      Model-model desain instruksional
Perencanaan pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya  memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001) bahwa desain intruksinonal adalah a systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah  ini disajikan beberapa di antaranya.
a.       Model Kemp
Model desain sistem instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk  mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen dalam suatu desainn instruksional menurut Kemp adalah:
1)      Hasil yang ingin dicapai
2)      Analisis tes mata pelajaran
3)      Tujuan khusus belajar
4)      Aktivitas belajar
5)      Sumber belajar
6)      Layanan pendukung
7)      Evaluasi belajar
8)      Tes awal
9)      Karakteristik belajar
Kesembilan komponen  itu merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi si sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
b.      Model Banaty
Model desain sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yaitu:
1)    Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.

2)    Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
3)   Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
4) Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
5) Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
6)    Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1 s.d 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
c.       Model Dick and Cery
Menurut model ini sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
d.      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan  perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses  belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1)   Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus oeprasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkat laku dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
2)   Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk msing-masing tujuan. Alat eveluasi disismpan pada tahap 2 setelah peremusuan tujuan untuk menyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4) Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pembelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan dan sumber pelajaran.
5)   Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan pretes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.

C.    Analisis Kebutuhan
Menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendesain pembelajaran. Mendesain pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh individu yang memerlukannya. Analisis kebutuhan merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.
1.      Pengertian Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas  ilmiah untukmengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai  tujuan pembelajaran dan mengarahkan pada peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Need Assessment (analisi kebutuhan) adalah suatu cara atau motode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diingikan/seterusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada seringkali disebut dengan kondisi rill atau kondisi nyata.
Pertama, Need Assesment  merupakan suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment bukanlah suatu hasil  akan tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu.
Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyattaan. Dengan demikian maka, need  assessment merupakan kegaiatan mengumpulkan  informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni 2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
Dapat disimpulkan bahwa analisi kebutuhan adalah suatu usaha untuk mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan anak. Analisis kebutuhan juga disebut suatu kajian terhadap asepek-aspek kebutuhan siswa baik melalui komponen-komponen dan sarana yang diperlukan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
2.      Fungsi Analisis Kebutuhan
Morrison menjelaskan beberapa fungsi  analisis kebutuhan (Need Assessment) sebagai berikut:
a.   Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.  Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan  atau lingkungan pendidikan.
c.     Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d.     Memberikan data basis untuk menganalisis efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisis kebutuhan:
a.       Kebutuhan Normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, UAN, SNMPTN, dan sebaginya.
b.      Kebutuhan Komperatif
Membandingkan peserta didik pada satu kelimpok dengan kelompok yang lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTPA dengan SLTP B.
c.  kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta   didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini merupakan kesenjangan antara tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d. Kebutuhan yang diekspesikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.   Kebutuhanmasa      depan, yaitu mengidentifikasi perubhan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya.
f.      Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, selalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
3.      Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a.       Pengumpulan informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b.      Identifikasi kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1)      Input
2)      Proses
3)      Produk
4)      Output
5)      Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang  keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
c.       Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance  dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasi
dan mengidentifikasi  kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkan
melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis performance meliputi:
1)      Mengidentifikasi guru
2)      Mengidentifikasi saran dan kelengkapan penunjang
3)      Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah
4)      Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun siswa.
d.      Identifikasi hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala  bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya  meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e.       Identifikasi karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa di antaranya  adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f.        Identifikasi prioritas, tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g.      Merumuskan masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.

D.    Analisis Karakteristik Siswa
Karakteristik siswa dapat didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan sosial (Suparman dalam Anwar dan Harmi 2012:58).
1.      Analisis Karakteristik Siswa
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pemeblajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Dalammeganalisis karakteristik siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.       Latar belakang akademik mencakup
1)      Jumlah siswa
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
2)      Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
3)      Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
a)      Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
b)      Bahkan siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama
c)      Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
d)      Untuk mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
4)      Tingkat intelegensi
Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
a)      Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
b)      Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
c)      Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
5.      Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
6.      Nilai ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa. untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
7.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang  mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.
8.      Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
9.      Harapan/keinginan siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
10.  Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
b.      Faktor-faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
1)      Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
2)      Kematangan (maturity)
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
3)      Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
4)      Bakat-bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
5)      Hubungan dengan sesame siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama siswa dalam belajar.
6)      Keadaan sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.
c.    Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite sklills” seperti: kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan, dan kemampuan gerak atau “psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki, dan badan.
2.      Teknik Analisis Karakteristik Awal Siswa
a.   Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen yang dimaksud misalnya nilai surat tanda taman belajar (STTB), nilai rapot, nilai tes intelegensi dan niali tes masuk. Catatan-catatan mengenai prestasi dalam berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
b.  Dengan menggunkan tes prasyarat dan tes awal. Tes prasayaratadalah tes untuk menegtaui apakah siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untukmengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan menegnai ajaran yang henak diikuti.
c.   Mengadakan konsultasi indivisual. Dengan mengadakan konsultasi  individual terhadap siswa, amak guru akan lebih dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap, keinginan siswa , dan sebagainya.
d. Dengan menyampaikan angket quetsionnaire angket bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya: depenent, independent, competitive, participant, dan sebagainya.
3.      Manfaat Memahami Karakteristik Siswa
a.   Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal.
b.    Memporoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c.       Mengetahui latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d.  Mengtahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e.   Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.     Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.
g.  Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h.  Mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil.
i.    Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses belajar.